Unikal Resmikan Green Batik Centre, Perkuat Komitmen Wujudkan Industri Batik Berkelanjutan

GreenBatik Unikal

PEKALONGAN – Universitas Pekalongan (Unikal) memperkuat komitmennya dalam mendorong transformasi industri batik yang ramah lingkungan melalui peresmian Green Batik Centre di Gedung E Universitas Pekalongan, Jumat (23/10/2026). Kehadiran pusat ini menjadi langkah strategis untuk memperluas edukasi, konsultasi, dan pendampingan bagi pelaku usaha batik dalam menerapkan prinsip industri hijau, khususnya melalui pengelolaan air dan limbah produksi yang berkelanjutan.

Peresmian dilakukan oleh Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN, Marc Gerritsen, bersama Rektor Universitas Pekalongan, Assoc. Prof. Dr. Andi Kushermanto, S.E., M.M., serta para mitra Green Batik Pekalongan Project. Kegiatan ini turut dihadiri Deputy Head of Culture and Communication at the Embassy of the Kingdom of the Netherlands in Indonesia and Erasmus Huis in Jakarta, Nassim Abba, serta Project Manager The Water Agency untuk Green Batik Pekalongan Pilot Project, Carrina.

Rangkaian kegiatan meliputi penampilan kriya batik oleh generasi muda, peninjauan instalasi pengolahan air limbah (IPAL), serta penyerahan Sertifikat Industri Hijau kepada empat pelaku usaha batik yang telah menerapkan prinsip produksi berkelanjutan.

Kolaborasi Internasional untuk Masa Depan Batik

Green Batik Centre merupakan bagian dari keberlanjutan kolaborasi Universitas Pekalongan dengan konsorsium mitra dari Belanda melalui Green Batik Pekalongan Project. Kerja sama ini mengintegrasikan keahlian di bidang pengelolaan air, penelitian, pendidikan, serta pendampingan industri untuk mendorong proses produksi batik yang lebih ramah lingkungan.

Inisiatif tersebut mencakup berbagai aspek pengelolaan air, mulai dari pengambilan dan penggunaan air dalam proses produksi, pengolahan air limbah, hingga pemanfaatan kembali air hasil pengolahan sesuai dengan standar dan peruntukannya. Selain itu, program ini diarahkan untuk mendorong penerapan prinsip industri hijau dan memperkuat daya saing pelaku usaha batik.

Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN, Marc Gerritsen, mengapresiasi langkah Universitas Pekalongan dalam menghadirkan fasilitas pendampingan yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku industri batik.

Menurutnya, pengelolaan air yang lebih baik menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi batik sekaligus mengurangi dampak lingkungan dari proses produksinya.

“Green batik is the future,” ujar Gerritsen.

Ia juga menuturkan bahwa selama kunjungan, dirinya memperoleh penjelasan mengenai proses produksi batik dan upaya pengolahan air limbah dengan pendekatan alami agar air hasil pengolahan dapat dimanfaatkan kembali sesuai peruntukannya.

Gerritsen berharap penerapan teknologi tersebut dapat semakin meluas, terutama di kalangan generasi muda dan pelaku usaha batik. Menurutnya, kolaborasi antara masyarakat, perguruan tinggi, dan mitra internasional menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan program sekaligus melestarikan tradisi batik bagi generasi mendatang.

“Saya berharap generasi baru perajin batik, baik perempuan maupun laki-laki, serta para pelaku usaha dapat menggunakan teknologi ini dan bekerja sama menjaga tradisi untuk generasi mendatang secara berkelanjutan,” ungkapnya.

Unikal Dorong Perubahan Pola Pikir Industri Batik

Rektor Universitas Pekalongan, Assoc. Prof. Dr. Andi Kushermanto, S.E., M.M., menjelaskan bahwa Green Batik Centre tidak hanya diarahkan sebagai fasilitas pendukung pengolahan limbah, tetapi juga sebagai pusat konsultasi, edukasi, dan pengembangan pengetahuan bagi industri batik.

Menurutnya, keberhasilan program tidak semata-mata diukur dari keberadaan instalasi pengolahan air limbah, tetapi juga dari perubahan pola pikir pelaku usaha dalam memahami pentingnya menjaga lingkungan sebagai bagian dari keberlanjutan industri batik.

“Yang kami bangun bukan mini IPAL-nya, tetapi kesadaran dan mindset betapa pentingnya batik bagi industri kreatif ekonomi di Pekalongan, sekaligus bagaimana meminimalkan persoalan limbah,” jelas Andi.

Ia menegaskan, Universitas Pekalongan memiliki peran strategis sebagai mitra akademik dalam mendukung pengembangan industri batik berkelanjutan. Melalui kapasitas pendidikan, penelitian, serta pemahaman terhadap potensi dan kearifan lokal Pekalongan, Unikal berupaya menjembatani kebutuhan industri dengan pengembangan pengetahuan dan teknologi.

Sementara itu, mitra dari Belanda memberikan dukungan melalui keahlian teknis di bidang pengelolaan air dan pengembangan sistem pengolahan limbah. Sinergi tersebut diharapkan menghasilkan pendekatan yang dapat disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing pelaku industri batik.

Andi menambahkan, keberlanjutan program menjadi perhatian utama agar manfaat kolaborasi dapat terus dirasakan setelah proyek percontohan berakhir. Oleh karena itu, pendampingan kepada pelaku usaha perlu diperluas, disertai penguatan kesadaran mengenai pentingnya pengelolaan limbah dan penerapan prinsip industri hijau.

Ke depan, Green Batik Centre diharapkan menjadi titik awal pengembangan model pendampingan industri batik yang lebih luas. Gagasan untuk memperluas penerapan model tersebut ke daerah lain, termasuk Solo dan Tegal, juga telah dibicarakan bersama para mitra dan masih memerlukan tindak lanjut.

Empat Pelaku Usaha Batik Terima Sertifikat Industri Hijau

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, Universitas Pekalongan bersama para mitra turut menyaksikan penyerahan Sertifikat Industri Hijau kepada empat pelaku usaha batik. Penyerahan sertifikat berlangsung di Auditorium Adaro, Gedung F Universitas Pekalongan.

Keempat pelaku usaha tersebut adalah Batik Rininta yang berlokasi di Gamer, Batik Rameza di Kampung Batik Pesindon, Batik Awee di Tirto, dan Batik Metaflora di Dekoro.

Sertifikat Industri Hijau (SIH) untuk sektor batik merupakan bentuk pengakuan resmi dari Kementerian Perindustrian kepada industri yang memenuhi persyaratan penerapan prinsip industri hijau sesuai ketentuan yang berlaku. Penerapan prinsip tersebut mencakup upaya meningkatkan efisiensi sumber daya serta mengurangi dampak lingkungan dari kegiatan produksi.

Penyerahan sertifikat ini menjadi salah satu bentuk dorongan bagi pelaku usaha untuk terus meningkatkan kualitas proses produksi, memperhatikan pengelolaan sumber daya, serta memperkuat daya saing industri batik di tengah tuntutan pasar yang semakin memperhatikan aspek keberlanjutan.

Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, mitra internasional, dan pelaku usaha, pengembangan industri batik diharapkan tidak hanya berorientasi pada peningkatan nilai ekonomi, tetapi juga pada perlindungan lingkungan dan pelestarian warisan budaya.

Merawat Warisan Budaya, Menjaga Keberlanjutan Lingkungan

Kolaborasi Indonesia dan Belanda dalam pengembangan batik ramah lingkungan juga memiliki dimensi historis dan budaya. Gerritsen menyoroti hubungan panjang kedua negara yang salah satunya tercermin dalam perkembangan Batik Belanda di Pekalongan lebih dari 140 tahun lalu.

Dalam kesempatan tersebut, Gerritsen mengenakan batik bermotif tulip yang terinspirasi dari desain Batik Belanda. Motif tersebut menjadi simbol hubungan budaya Indonesia dan Belanda, khususnya dengan Pekalongan yang dikenal luas sebagai salah satu pusat perkembangan batik di Indonesia.

“Saya bangga mengenakan batik ini karena menghubungkan Belanda dan Indonesia, khususnya dengan Pekalongan,” ujarnya.

Melalui peresmian Green Batik Centre, Universitas Pekalongan menegaskan bahwa pelestarian batik perlu berjalan beriringan dengan inovasi dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Tradisi membatik tidak hanya perlu diwariskan melalui keterampilan dan nilai budayanya, tetapi juga melalui praktik produksi yang semakin efisien dan berkelanjutan.

Kehadiran Green Batik Centre diharapkan menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan pengetahuan akademik, teknologi, kearifan lokal, dan kebutuhan industri. Dengan demikian, industri batik Pekalongan dapat terus tumbuh sebagai bagian penting dari ekonomi kreatif sekaligus menjadi contoh pengembangan industri budaya yang lebih ramah lingkungan.