Perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) yang semakin pesat mendorong perguruan tinggi untuk mempersiapkan generasi muda agar mampu beradaptasi dengan perubahan dunia kerja. Hal tersebut menjadi fokus dalam kegiatan Visiting Lecture Universitas Pekalongan bertema “ICT and AI Integration: Developing the Skills of Future Workforce in the 21st Century Digital Era”, Rabu (9/9/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan Assoc. Prof. Dr. Saifuddin Bin Haji Mohtaram, Dean of Faculty of Computing & Multimedia, Universiti Poly-Tech Malaysia (UPTM), sebagai narasumber dan Dwi Ario Fajar sebagai moderator. Kegiatan ini dihadiri langsung oleh direktur PPdK Unikal dan mahasiswa Universitas Pekalongan.
Dalam pemaparannya, Prof. Saifuddin menjelaskan bahwa AI telah berkembang dari teknologi yang mampu menganalisis dan membuat prediksi menuju Generative AI yang dapat menghasilkan teks, gambar, musik, maupun kode, serta Agentic AI yang memiliki kemampuan merencanakan, mengambil keputusan, dan menjalankan rangkaian pekerjaan secara mandiri.

Peserta juga diajak memahami bagaimana AI bekerja melalui data, machine learning, dan neural network. AI belajar dengan mengenali pola dari data dan melakukan proses training untuk meningkatkan kemampuan dalam menghasilkan prediksi maupun keputusan.
Tidak hanya membahas kemampuan teknologi, Prof. Saifuddin menekankan pentingnya etika dalam penggunaan AI, khususnya dalam penulisan akademik. AI dapat membantu proses menulis, tetapi tidak dapat menggantikan pengetahuan, pemikiran kritis, analisis, pengalaman, dan pemahaman manusia. Penggunaan AI menjadi tidak etis ketika digunakan untuk menghasilkan karya secara penuh kemudian diakui sebagai karya sendiri, membuat kutipan palsu, atau melakukan parafrase tanpa memahami isi.
Mahasiswa juga diperkenalkan dengan risiko AI hallucination dan AI bias. AI hallucination dapat membuat sistem menghasilkan informasi, data, kutipan, atau referensi yang sebenarnya tidak benar. Sementara AI bias dapat menghasilkan keluaran yang tidak adil atau merugikan kelompok tertentu. Karena itu, pengguna perlu melakukan verifikasi dan tetap menggunakan penilaian kritis ketika memanfaatkan AI.
Memasuki pembahasan mengenai tenaga kerja masa depan, Prof. Saifuddin menyoroti pentingnya analytical thinking, technological literacy, dan resilience. Selain itu, mahasiswa perlu mengembangkan rasa ingin tahu dan pembelajaran sepanjang hayat, fleksibilitas, kemampuan beradaptasi, kepemimpinan, kolaborasi, empati, serta komunikasi lintas budaya.
Dalam sesi tersebut, peserta juga diperkenalkan pada berbagai perangkat AI yang dapat digunakan sesuai kebutuhan, seperti ChatGPT, Gemini, Perplexity AI, Grammarly, Canva, GitHub Copilot, hingga berbagai tools untuk penelitian, desain, pengembangan perangkat lunak, dan pekerjaan bisnis. Kemampuan memilih teknologi yang tepat dan memberikan instruksi atau prompt secara efektif menjadi bagian dari keterampilan digital yang perlu dikembangkan mahasiswa.
Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Peserta diberikan kesempatan untuk berdiskusi langsung dengan narasumber mengenai perkembangan ICT dan AI serta kompetensi yang perlu dipersiapkan untuk menghadapi dunia kerja.
Kegiatan Visiting Lecture ini memberikan pesan bahwa perkembangan teknologi harus diimbangi dengan kesiapan sumber daya manusia. Mahasiswa tidak cukup hanya mampu menggunakan AI, tetapi juga harus memiliki kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, kemampuan beradaptasi, dan kesadaran etis. Melalui kegiatan ini, Universitas Pekalongan tidak hanya memberikan wawasan mengenai perkembangan teknologi, tetapi juga mendorong mahasiswa untuk menjadi generasi yang adaptif, kompeten, dan mampu memanfaatkan AI secara cerdas dan bertanggung jawab dalam menghadapi dunia kerja masa depan
