SENTANI II UNIKAL Bahas Inovasi Pertanian Berkelanjutan untuk Mendukung Pencapaian SDGs

Fakultas Pertanian Universitas Pekalongan (UNIKAL) kembali menyelenggarakan Seminar Nasional Pertanian Indonesia (SENTANI II) Tahun 2026 pada Kamis (30/7/2026) dengan mengusung tema “Inovasi Pertanian dalam Mendukung Sustainable Development Goals (SDGs).” Seminar ini menjadi forum ilmiah yang mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, pemerintah, mahasiswa, dan pemangku kepentingan untuk mendiskusikan berbagai tantangan serta peluang pembangunan pertanian berkelanjutan di Indonesia.

Kegiatan diawali dengan sambutan dari Dekan Fakultas Pertanian Universitas Pekalongan, Dr. Ubad Badrudin, yang menyampaikan bahwa SENTANI II merupakan bentuk komitmen Fakultas Pertanian dalam membangun budaya akademik yang produktif sekaligus memperkuat kolaborasi antarlembaga dalam menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi sektor pertanian nasional. Menurutnya, seminar nasional ini diharapkan tidak hanya menjadi ruang diseminasi hasil penelitian, tetapi juga menjadi media lahirnya gagasan dan kolaborasi yang mampu menjawab berbagai persoalan pertanian di masa depan.

Sementara itu, sambutan sekaligus pembukaan seminar disampaikan oleh Wakil Rektor I Universitas Pekalongan, Zahro, S.E., M.Si., yang mewakili Rektor Universitas Pekalongan. Dalam sambutannya, beliau mengapresiasi konsistensi Fakultas Pertanian Universitas Pekalongan dalam menyelenggarakan Seminar Nasional Pertanian Indonesia sebagai wadah yang mempertemukan para peneliti, akademisi, praktisi, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas persoalan-persoalan strategis di bidang pertanian.

Menurutnya, tema yang diangkat pada SENTANI II sangat relevan dengan tantangan global yang dihadapi saat ini. Dunia tengah menghadapi berbagai persoalan, mulai dari perubahan iklim, degradasi lahan pertanian, ancaman krisis pangan, meningkatnya kebutuhan energi, hingga perubahan pola konsumsi masyarakat. Di sisi lain, luas lahan pertanian produktif yang semakin terbatas serta tingginya alih fungsi lahan menjadi tantangan serius bagi Indonesia dalam menjaga produktivitas sektor pertanian.

Beliau menegaskan bahwa pembangunan pertanian saat ini tidak lagi hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi telah berkembang menuju sistem pertanian modern yang berkelanjutan, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta mampu menjaga keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Oleh karena itu, perguruan tinggi, khususnya Fakultas Pertanian, memiliki peran strategis dalam menghasilkan riset, inovasi, dan sumber daya manusia yang mampu memberikan solusi atas berbagai tantangan tersebut.

Lebih lanjut disampaikan bahwa Sustainable Development Goals (SDGs) bukan sekadar komitmen internasional, melainkan menjadi arah pembangunan nasional yang harus diwujudkan melalui berbagai sektor, termasuk pertanian. Sektor pertanian memberikan kontribusi langsung terhadap pencapaian sejumlah tujuan SDGs, di antaranya SDG 2 (Zero Hunger/Tanpa Kelaparan), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim). Oleh sebab itu, inovasi di bidang pertanian menjadi salah satu kunci dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.

Seminar nasional ini menghadirkan Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si. sebagai Keynote Speaker yang dalam pelaksanaannya diwakili oleh Prof. Dr. Eng. Agus Haryono, Deputi Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi BRIN Indonesia. Dalam paparannya disampaikan bahwa riset dan inovasi menjadi fondasi penting dalam mendorong transformasi sektor pertanian agar lebih produktif, adaptif terhadap perubahan iklim, serta mampu memperkuat ketahanan pangan nasional.

Pada sesi seminar, Prof. Ir. Totok Agung Dwi Haryanto, M.P., Ph.D., Guru Besar Pemuliaan Tanaman Universitas Jenderal Soedirman, menjelaskan pentingnya inovasi pemuliaan tanaman melalui pengembangan varietas unggul dan benih bermutu sebagai fondasi pertanian berkelanjutan. Menurutnya, pemanfaatan teknologi pemuliaan modern akan menghasilkan varietas yang lebih produktif, tahan terhadap hama dan penyakit, adaptif terhadap perubahan iklim, serta lebih efisien dalam penggunaan air maupun pupuk sehingga mampu mendukung pencapaian berbagai target SDGs.

Sementara itu, Prof. Dr. Hj. Rina Nuryati, Ir., M.P., Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi, memaparkan strategi pembangunan pertanian berkelanjutan melalui penerapan sistem agroforestri berbasis kearifan lokal yang dipadukan dengan inovasi teknologi M-Bio. Model pertanian terpadu yang mengintegrasikan tanaman, ternak, dan perikanan tersebut dinilai mampu meningkatkan produktivitas, mengoptimalkan pemanfaatan limbah menjadi pupuk organik, sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem menuju konsep zero waste agriculture.

Seminar Nasional SENTANI II diikuti oleh 176 peserta yang berasal dari berbagai perguruan tinggi, instansi pemerintah, praktisi, peneliti, penyuluh pertanian, dan mahasiswa, baik secara luring maupun daring. Selain seminar utama, kegiatan juga dilanjutkan dengan sesi paralel yang menghadirkan 23 pemakalah untuk mempresentasikan hasil penelitian dan pengabdian kepada masyarakat di bidang pertanian.

Melalui penyelenggaraan SENTANI II, Fakultas Pertanian Universitas Pekalongan berharap dapat memperkuat jejaring kolaborasi, mendorong hilirisasi hasil riset, serta menghasilkan inovasi yang mampu menjawab tantangan pembangunan pertanian Indonesia. Seminar ini sekaligus menjadi wujud nyata kontribusi Universitas Pekalongan dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals melalui pengembangan ilmu pengetahuan, penelitian, dan inovasi yang berdampak bagi masyarakat.