Universitas Pekalongan Dorong Kolaborasi Global untuk Green Batik Pekalongan Pilot Project

Pekalongan, 14 April 2025 – Pemerintah Kota Pekalongan resmi meluncurkan Pilot Project Green Batik Pekalongan dalam sebuah acara yang berlangsung di Ruang Jlamprang, Kantor Setda Kota Pekalongan pada Senin (14/4). Program ini menjadi langkah strategis dalam mewujudkan industri batik yang lebih ramah lingkungan, adaptif terhadap perubahan iklim, dan berkelanjutan.

Acara peluncuran ini dihadiri oleh berbagai pihak penting, di antaranya perwakilan dari Kementerian Pekerjaan Umum, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana, Delegated Water Representative dari Belanda, Bappeda Provinsi Jawa Tengah, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kota Pekalongan, serta anggota Tim Konsorsium Green Batik Pekalongan yang meliputi Universitas Pekalongan, para Batik Champion, Dekranasda, dan perwakilan dari Kampung Batik.

Dalam sambutannya, Wali Kota Pekalongan, Achmad Afzan Arslan Djunaid, S.E., M.M menyampaikan bahwa proyek ini merupakan respons konkret atas berbagai permasalahan air yang selama ini dihadapi Kota Pekalongan, seperti penurunan permukaan tanah akibat ekstraksi air tanah, banjir, kelangkaan air tawar, hingga pencemaran lingkungan. Industri batik, sebagai sektor unggulan kota, diakui turut memberikan kontribusi terhadap tantangan tersebut. “Alhamdulillah ada kerja sama dengan Belanda untuk mengelola limbah batik. Tujuannya agar limbah batik bisa ditangani. Saya minta semua berkomitmen agar di Tahun 2027 limbah batik bisa selesai, walaupun sektor ekonomi khususnya di bidang tekstil masih mengalami penurunan, tidak begitu berimbas pada sektor batik yang menjadi seni dan kreativitas masyarakat. Target kami Tahun 2027 program ini selesai dan bisa dijalankan dengan baik,” ujarnya.

Proyek ini merupakan bagian dari prioritas kerja sama bilateral antara Indonesia dan Belanda dalam bidang pengelolaan air, khususnya di kawasan pantai utara Jawa. Mengusung tema Kualitas dan Ketersediaan Air, Adaptasi Iklim, Risiko Kekeringan dan Banjir, serta Pengelolaan Daerah Aliran Sungai untuk Kota yang Tangguh. Program ini selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi) dan SDG 11 (Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan).

Green Batik Pekalongan Project akan berlangsung sejak awal 2025 hingga Januari 2027. Program ini merupakan hasil kolaborasi konsorsium internasional yang terdiri dari The Water Agency, University of Pekalongan, Resilience BV, Saxion University, Vitens Evides International, dan Rietland dari Belgia.

Universitas Pekalongan mengambil peran penting dalam proyek ini sebagai pelaksana proyek (project implementation), penyusun standar industri hijau (green industry standards formulator), pelaksana pemantauan proyek (monitoring), sekaligus menjadi pusat pengembangan Green Batik Centre.

Rektor Universitas Pekalongan, Dr. Andi Kushermanto S.E., M.M menyampaikan bahwa pihaknya siap menjadi jembatan antara dunia akademik, pemerintah, dan pelaku industri untuk menciptakan inovasi yang aplikatif dan berkelanjutan. “Kami berharap Green Batik Centre dapat menjadi pusat edukasi, riset, dan advokasi bagi pengembangan batik hijau di tingkat nasional,” tuturnya.

Program ini juga ditargetkan mampu menciptakan teknologi produksi yang efisien dan ramah lingkungan, memperkuat kapasitas SDM melalui pelatihan, serta menjadi model percontohan pengembangan ekonomi kreatif yang memperhatikan aspek lingkungan.Keberhasilan Green Batik Pekalongan Project diharapkan dapat memperkuat citra Pekalongan sebagai World City of Batik yang tidak hanya kaya budaya, tetapi juga menjadi pelopor dalam menjaga kelestarian lingkungan melalui industri yang berkelanjutan.