Unikal Gelar Seminar Nasional SENTANI 2025, Soroti Masa Depan Pertanian Berkelanjutan

SENTANI 2025

Pekalongan, 10 Juli 2025 – Fakultas Pertanian Universitas Pekalongan menggelar Seminar Nasional SENTANI 2025 dengan tema “Inovasi Pertanian Berkelanjutan untuk Mendukung Ketahanan Pangan” . Acara ini digelar secara daring melalui Zoom Meeting dan dihadiri oleh berbagai peserta dari berbagai institusi pendidikan, pemerintahan, serta pelaku pertanian.

Acara seminar resmi dibuka oleh Rektor Universitas Pekalongan, Dr. Andi Kushermanto, S.E., M.M., yang dalam sambutannya menyampaikan pentingnya peran perguruan tinggi dalam menjawab tantangan ketahanan pangan nasional.

Sesi utama seminar dibuka oleh keynote speaker Prof. Stella Christie, A.B., Ph.D., seorang pakar dalam bidang kognisi dan pembelajaran, yang mengulas bagaimana inovasi dan perubahan paradigma dapat menjadi kunci dalam mendorong praktik pertanian yang adaptif.

Salah satu sesi utama menghadirkan narasumber Prof. Dr. Ir. Suntoro, M.S., yang menyampaikan Prof. Dr. Ir. Suntoro, M.S., yang menyajikan materi bertajuk “Peluang dan Tantangan Pertanian Berkelanjutan untuk Mendukung Ketahanan Pangan.” Dalam paparannya, Prof. Suntoro mengkritisi dampak jangka panjang penggunaan agrokimia secara berlebihan yang telah menyebabkan kerusakan tanah, pencemaran air, hingga membahayakan kesehatan manusia.

“Ketergantungan pada agrokimia telah menurunkan kesuburan tanah, mencemari lingkungan, dan membahayakan kesehatan. Kita harus segera beralih ke sistem pertanian yang lebih ramah lingkungan dan efisien,” jelasnya.

Ia juga menyoroti ancaman krisis energi dan ketergantungan pada bahan bakar fosil dalam proses produksi pupuk, serta mendesak perlunya transisi menuju praktik pertanian yang mengedepankan efisiensi dan konservasi sumber daya alam. Beberapa solusi yang ditawarkan meliputi pengembangan pertanian organik, pertanian terpadu, SRI (System of Rice Intensification), hingga bio-cyclo farming.

Lebih lanjut, beliau mengungkapkan bahwa pertanian berkelanjutan bukan sekadar isu teknis, melainkan juga menyentuh aspek sosial dan ekonomi, seperti rendahnya tingkat pendidikan petani, keterbatasan modal, hingga akses pasar yang sempit.

Sementara itu, Prof. Mangku Purnomo, S.P., M.Si., Ph.D. mengangkat pentingnya rekayasa sosial, kelembagaan petani, dan pelestarian kearifan lokal dalam memperkuat ketahanan pangan. Menurutnya, inovasi teknologi saja tidak cukup jika tidak disertai perubahan perilaku sosial dan struktur kelembagaan yang mendukung. Menurut beliau perlu memperkuat posisi petani dalam rantai nilai pangan, menghidupkan kembali praktik tradisional yang terbukti ramah lingkungan, dan mendorong partisipasi aktif masyarakat lokal dalam pengambilan keputusan.

Seminar ini juga membuka ruang diskusi dan tanya jawab yang interaktif, serta diakhiri dengan sesi paralel pemaparan makalah dari para akademisi. SENTANI 2025 menjadi bukti nyata komitmen Universitas Pekalongan dalam mendorong transformasi pertanian berbasis ilmu, sosial, dan budaya untuk masa depan pangan Indonesia yang tangguh.