UNIKAL dan ASEPHI Teken MoU di Inacraft 2025, Kolaborasi untuk Wujudkan Green Batik dan Industri Kreatif Berkelanjutan

Jakarta, 1 Oktober 2025 — Universitas Pekalongan (UNIKAL) kembali menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan industri kreatif berkelanjutan melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) di ajang International Handicraft Trade Fair (Inacraft) 2025, yang digelar di Jakarta Convention Center (JCC) pada Rabu (1/10).

Penandatanganan kerja sama dilakukan oleh Rektor Universitas Pekalongan, Dr. Andi Kushermanto, S.E., M.M., dan Pimpinan ASEPHI Pusat, Dr. H. Muchsin Ridjan, S.E., M.M., sebagai wujud sinergi antara dunia pendidikan tinggi dan sektor industri kreatif nasional, khususnya dalam pengembangan batik dan kriya berbasis kearifan lokal.

Kegiatan Inacraft 2025 yang berlangsung pada 1–5 Oktober 2025 turut digawangi oleh ASEPHI Pekalongan. Rangkaian acara diawali dengan Business Luncheon and Networking, dibuka oleh Dr. H. Muchsin Ridjan, S.E., M.M., selaku Pimpinan ASEPHI. Dalam kegiatan tersebut, UNIKAL menjadi mitra strategis yang berperan aktif memperkenalkan inovasi hasil riset dan pengabdian masyarakat di bidang batik berkelanjutan.

Sebagai implementasi kerja sama, Universitas Pekalongan menghadirkan booth pameran di Inacraft 2025 yang menampilkan beragam karya inovatif sivitas akademika UNIKAL, antara lain alat bantu membatik bagi penyandang disabilitas, luaran penelitian dan PkM dosen dan mahasiswa di bidang batik, karya batik mahasiswa pada media non-kain, serta karya batik karakter diri mahasiswa.

Setiap karya batik mahasiswa Program Studi Kriya Batik UNIKAL dilengkapi dengan exclusive book yang menjelaskan filosofi motif dan warna, konsep desain, proses pembuatan, hingga strategi pemasaran dan penggunaan produk. Pendekatan ini menunjukkan integrasi antara kreativitas, riset, dan kewirausahaan dalam dunia akademik.

Selain pameran, UNIKAL juga menghadirkan booth experience membatik di area luar hall. Pengunjung diajak untuk mencoba langsung proses membatik cap dengan bimbingan mahasiswa Kriya Batik UNIKAL, menggunakan berbagai teknik khas seperti tubruk, mubeng, mlampah sareng, ondo-ende, dan parang (miring). Mereka juga berkesempatan mewarnai motif dengan teknik colet menggunakan zat warna reaktif. Aktivitas edukatif ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung dalam memahami filosofi dan teknik membatik khas Pekalongan.

Kerja sama UNIKAL dan ASEPHI ini tidak berhenti pada ajang Inacraft. Ke depan, kedua pihak berkomitmen untuk mengembangkan konsep Green Batik dan mendirikan Pusat Warna Alami di Pekalongan, yang diharapkan menjadi pusat inovasi batik ramah lingkungan di Indonesia. Langkah ini sejalan dengan semangat UNIKAL sebagai universitas pelopor Green Industry di bidang pendidikan tinggi

Sebagai institusi yang lahir dan berkembang di Kota Batik, UNIKAL telah lama menginisiasi berbagai program untuk mendukung pembangunan industri hijau. Melalui program Green Batik Pekalongan Pilot Project, UNIKAL menjadi bagian dari konsorsium yang berkontribusi dalam pembangunan IPAL Mandiri untuk tiga industri batik di Pekalongan — yakni Nuansa Batik, Batik Metaflora, dan Batik Encim — serta memfasilitasi proses sertifikasi Industri Hijau Batik.

Selain riset dan pengabdian masyarakat, UNIKAL juga aktif menjalin jejaring kerja sama dengan pemerintah daerah, pelaku usaha, dan komunitas lokal untuk mewujudkan ekosistem industri kreatif yang berdaya saing sekaligus ramah lingkungan. Langkah-langkah ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama pada aspek energi bersih, inovasi industri, dan perlindungan ekosistem.

“Kerja sama ini adalah bukti nyata bagaimana perguruan tinggi dapat berkontribusi langsung terhadap industri kreatif nasional sekaligus berperan aktif dalam mewujudkan ekonomi hijau. UNIKAL ingin menjadi kampus yang melahirkan solusi, bukan hanya lulusan,” ujar Rektor Universitas Pekalongan, Dr. Andi Kushermanto, S.E., M.M.

Melalui kolaborasi strategis bersama ASEPHI, UNIKAL menegaskan peran akademisi dalam memperkuat industri batik sebagai warisan budaya sekaligus motor penggerak ekonomi hijau. Inovasi, riset, dan semangat berkelanjutan menjadi fondasi penting bagi Pekalongan menuju kota batik yang hijau dan berdaya saing global.