Universitas Pekalongan (Unikal) mengadakan “Workshop Artificial Intelligence: Future Challenge and Education” di Auditorium Gedung F Lantai 8 Unikal pada hari Selasa (10/9).
Workshop yang mengangkat tema “Inovasi Pendidikan: Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam Pembelajaran Berdiferensiasi yang Inovatif dan Adaptif” ini dihadiri oleh puluhan guru dari Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Batang, dan Kabupaten Pemalang.
Dalam acara tersebut, Unikal bekerja sama dengan Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO) Regional Open Learning Centre (SEAMOLEC) untuk memberikan pelatihan kepada para guru mengenai pemanfaatan AI dalam proses pembelajaran.
Pada saat yang sama, diadakan pula kegiatan “Youth International Conference: The Role and Contribution of Young People in Improving Community Digital Literacy for a Better World.”
Kedua acara tersebut merupakan bagian dari rangkaian perayaan Dies Natalies ke-43 Universitas Pekalongan (Unikal). Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah XII Provinsi Jawa Tengah, Sukamto, hadir sebagai pembicara utama dalam acara tersebut.
Sementara itu, Youth International Conference menghadirkan pembicara dari berbagai negara secara daring. Di antara mereka adalah perwakilan dari Universitas Pekalongan, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Cirebon, Universitas Labuhanbatu Sumatera Utara, dan An Giang University Vietnam.
Selain itu, turut hadir juga pembicara dari Kalasin University Thailand, Universidade Oriental Timor-Lorosa’e (Unital) Timor Leste, serta Komunitas Penulis Kreatif Timor Leste.
Rektor Unikal, Andi Kushermanto, menyatakan bahwa kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), telah membawa revolusi besar dalam cara kita berinteraksi dan berkomunikasi, baik di kampus, sekolah, maupun dalam pembelajaran di luar institusi pendidikan.
“Kemajuan teknologi adalah sesuatu yang harus kita antisipasi. Dalam konteks ini, kami mengajak anak muda dan lembaga pendidikan untuk memanfaatkan teknologi informasi secara optimal, karena keduanya memiliki peran penting dalam memajukan pendidikan,” ujarnya.
Andi berharap melalui kegiatan ini, pemuda dan guru dapat memanfaatkan teknologi informasi dengan efektif. Ia juga menekankan pentingnya penggunaan teknologi informasi secara bijaksana, dengan tetap menonjolkan pemikiran analitis dan kreatif di kalangan pendidik.
Menurutnya, teknologi informasi adalah alat yang efektif untuk meningkatkan kemampuan analisis dan berpikir kritis. Namun, teknologi ini tidak seharusnya dipandang sebagai solusi untuk semua masalah dalam proses belajar.
“Bagi para guru, kecerdasan buatan dapat menjadi alat bantu dalam proses pembelajaran. Namun, AI tidak seharusnya menjadi solusi utama untuk semua masalah. Tujuannya bukan sekadar memanfaatkan kemudahan yang ditawarkan, melainkan bagaimana AI dapat mendukung pengembangan ilmu pengetahuan secara lebih mendalam,” jelasnya.
