Prodi Kriya Batik UNIKAL Bahas Teaching Factory dan Daya Saing Batik Global dalam Pertemuan Ilmiah 2025

PEKALONGAN – Program Studi D3 Kriya Batik Fakultas Teknik Universitas Pekalongan menggelar Pertemuan Ilmiah bertema “Teaching Factory sebagai Pilar Inovasi Perguruan Tinggi dan Industri Menuju Kriya Batik Berdaya Saing Global” pada Minggu, 8 Desember 2025. Acara berlangsung di Hall Gedung C Lantai 3 Universitas Pekalongan dan menjadi salah satu agenda utama dalam rangkaian Pekan Ilmiah Batik 2025.

Kegiatan ilmiah ini dirancang untuk mempertemukan akademisi, pelaku industri, mahasiswa, serta pemangku kepentingan batik dalam satu ruang diskusi yang membahas peluang, inovasi, serta tantangan industri batik menuju persaingan global.

Dalam sambutannya, Rektor Universitas Pekalongan menekankan bahwa Pekan Ilmiah Batik bukan hanya acara seremonial, tetapi bukti bahwa kampus hadir melampaui ruang kelas.

Beliau menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah contoh nyata bagaimana Tri Dharma Perguruan Tinggi dapat disatukan dalam satu ekosistem yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Ia juga menyoroti peran student mobility, khususnya student exchange batik, sebagai bentuk diplomasi budaya. Menurutnya, ilmu pengetahuan tidak boleh berhenti menjadi teori atau sekadar “pajangan etalase”, tetapi harus turun menjadi solusi yang nyata.

Rektor kemudian mengaitkan urgensi tersebut dengan tantangan global saat ini. Di tengah krisis lingkungan dan disrupsi teknologi, batik justru membuka ruang inovasi yang sangat luas. Ia mencontohkan berbagai inisiatif UNIKAL bersama mitra seperti BLUE DEAL dan Water Agency yang menghasilkan riset IPAL mini untuk UMKM, pengembangan konsep Green Batik, serta dukungan terhadap pemberian sertifikat hijau bagi pelaku industri batik. Semua langkah itu, menurutnya, adalah peluang untuk membawa Pekalongan bukan sekadar sebagai “Kota Batik”, tetapi menuju peran baru sebagai Pusat Inovasi Batik Dunia.

Acara dipandu oleh Moderator Maghfiroh, S.Si., M.Sc, selaku dosen prodi kriya batik yang mengalirkan jalannya program dari pembukaan hingga sesi diskusi ilmiah.

Sesi materi dibuka oleh Sony Ikasari Sumaatmaja, S.E., Marketing Manager CV Paradise Batik Yogyakarta. Sony membagikan kisah bagaimana Paradise Batik melakukan transformasi melalui perpaduan tradisi, teknologi, inovasi, dan prinsip keberlanjutan. Ia memaparkan perjalanan perusahaan memperoleh Sertifikat Industri Hijau dan berkomitmen pada praktik ramah lingkungan, mulai dari pengolahan limbah hingga penerapan konsep zero waste. Peserta diajak memahami bahwa industri batik kini bergerak ke arah yang lebih modern dan berkelanjutan.

Materi kedua disampaikan oleh Muhammad Hisyam Diputra, S.P., Production Manager Griya Batik Mas. Ia membawa peserta menyelami dinamika dunia batik dari sisi manajemen produksi, pemasaran, dan kebutuhan SDM yang relevan dengan tren industri. Hisyam menekankan bahwa batik tidak lagi hanya mengandalkan keahlian tradisional, tetapi juga membutuhkan desainer kreatif, pemasar digital, serta talenta yang responsif terhadap perubahan teknologi.

Diskusi setelah sesi pemaparan berlangsung hangat. Berbagai pertanyaan muncul dari mahasiswa dan tamu undangan terkait peluang inovasi, tantangan menghadapi produk printing, dan pentingnya kolaborasi antara dunia kampus dan industri. Moderator Maghfiroh, S.Si., M.Sc membantu merangkum bahwa Teaching Factory menjadi jembatan penting agar mahasiswa memahami kebutuhan industri secara nyata sekaligus menumbuhkan kreativitas yang relevan dengan masa depan batik.

Pertemuan Ilmiah ini tidak hanya menjadi ruang bertukar pandangan, tetapi juga menguatkan optimisme bahwa batik dapat terus berkembang melalui sinergi antara pendidikan, riset, dan industri. Dengan dorongan inovasi dan dukungan generasi muda, batik Indonesia diyakini mampu melangkah lebih jauh menuju daya saing global.