Rusunawa Unikal

Tahun 2018, Pemerintah Selesai Bangun 39 Rusun di Jateng

PEKALONGAN, suaramerdeka.com – Tahun 2018, Kementerian PUPR sudah membangun 39 rumah rusun di wilayah Jawa Tengah. Jumlah itu dianggapnya masih kurang, sehingga tahun ini kembali akan membangun untuk 17 rumah susun. 

Demikian Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono, Sabtu (23/2) menjawab pertanyaan wartawan ketika meresmikan tiga rumah susun di Universitas Pekalongan. Ketiga rusun yang diresmikan itu antara lain Rusun Universitas Pekalongan (Unikal) berupa bangunan gedung empat lantai  berisi 50 ruang dengan kapasitas 196 mahasiswa. Gedung itu dibangun dengan dana dari pusat sebesar Rp 14,8 miliar.

Dua rusun lainnya adalah Rusun Ponpes YMI Kabupaten Pekalongan berupa bangunan tiga lantai  dengan 12 unit yang mampu menampung 216 santri dan Rusun dua lantai untuk Ponpes Modern Gondang senilai Rp 4,9 miliar berisi  8 unit  untuk 144 santri.

Ikut hadir dalam peresmian itu, Dirjen Penyedia Perumahan, Khalawi AH, Wali Kota Pekalongan, M Saelany Machfudz dan Sekda Sri Ruminingsih, Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi. Kemudian dari Unikal hadir Ketua Pembina Yayasan Samartya, Prof Hadiman, Ketua Yayasan Samartya Muh Rizal dan Rektor Unikal, Suryani, dan para dosen serta mahasiswa.  

Berkaitan dengan peresmian Rusun itu, Menteri menyampaikan pesan dari Presiden Jokowi, agar pemilik Rusun itu dimaanfaatkan, dirawat dan dikelola secara optimal.

“Pembangunan Rusun ini dinilainya sangat efektif di wilayah negara kita. Rusun dibangun bukan hanya untuk mahasiswa, tetapi  juga untuk masyarakat pekerja di daerah kawasan industri, perkotaan, masyarakat pindahan dari bantaran sungai, untuk Aparatur Sipil Negara (ASN), polisi, dan sebagainya,” katanya. 

Dalam peresmian itu, menteri juga memberikan penghargaan bagi tenaga ahli muda konstruksi dan tenaga terampil bersertifikat profesi di wilayah Kota dan Kabupaten Pekalongan. 

Usai peresmian, Basuki berkesempatan talk show bersama Sosiolog Imam Prasojo untuk membahas penanganan dan kepedulian tentang sampah. Negara kita menurut Basuki  termasuk negara paling kotor di dunia. Berkaitan dengan Buang Air Besar (BAB) sembarangan, Indonesia masuk dalam tigas besar. Pertama India, Nigeria dan Indonesia.

Kemudian soal sampah, Basuki merasa prihatin. Karena pembuangan sampah plastik (kresek) di laut jumlahnya sangat banyak. Padahal, sampah plastik kresek sulit untuk diproses. Untuk mengatasi itu, dia menyediakan beberapa mesin pencacah yang akan dibagikan pada pemulung. 

Dengan cara itu, maka plastik cacahan itu bisa dibeli pemerintah untuk campuran pembuatan aspal. “Campuran plastik itu mampu andil 7% untuk penggunaan aspal,” katanya. 

Sumber : suara merdeka

Trias Purwadi/CN39/SM Network